Balada Tangisan
Alkisah, saat pertama SBY terpilih sebagai presiden RI ke-6 ditengarai datang bertubi-tubi bencana alam ke negeri tercinta nan permai ini. Hingga akhirnya Pak SBY diruwat karena mendapat pertanda demikian.
Gelung demi gelung film kehidupan bergulir di alam Nusantara ini, juga tanpa perlu harus Beliau diruwat memang terjadi sebagaimana mestinya. Jadi jangan salahkan Bapak SBY jika ada bencana ke republik tercinta, namun karena memang kuasa-kuasa Nya yang bekerja sebagai pertanda dan penempaan pada setiap insan.
Demikian pula dengan tempaan kesedihan, dalam bentuk kedukaan karena orang yang kita cintai meninggalkan dunia fana ini – tanpa jejak terlebih-lebih tanpa tanda-tanda.
wikipedia
Siapa yang mau menerima jika kekasih hati, panutan jiwa raga, orang tua tercinta, suami atau istri terkasih, kakek atau nenek bijak, bahkan teman karib terdekat harus meninggalkan kita untuk selama-lamanya
Mau dibilang nasi sudah jadi bubur, rasanya basi. Mau dibilang takdir, memang hidup kita akan berakhir di lonceng kematian. Susah memang mencari kambing hitam atas kedukaan yang kita alami tersebut.
Kadang lonceng kematian berdentang tanpa kita duga, di saat kita tidak lagi siap menerima, di saat rasa bahagia masih terpancar dan meretas bersama sang tercinta. Tapi rasa bahagia itu tiada lagi, teregang sudah karena dia yang kita kasihi sudah terdiam seribu basa, terbujur kaku dalam beku dan harus rela kita lepaskan menuju tempat persemayaman ke haribaan Ibu Pertiwi.
“Ashes to ashes, Dust to dust”. Itulah kalimat yang selalu diucapkan para Imam atau pendeta saat menghantarkan jenazah orang yang kita admire, kagumi, cintai, sayangi menuju liang lahat.
Senang tiada lagi, sedih membahana. Duka lara menghujam perlahan, hanya tetesan air mata mengalir sembab tak terbendung sebagai manifestasi kehilangan itu. Kenangan indah, suka, sedih, susah tinggal memori dalam benak dan akal yang terucap dalam rangkaian kalimat atau gambar atau video. Yang diputar kembali di saat kita membutuhkan sesuatu yang hilang meninggalkan kehampaan itu.
Suka Duka dipakai-Nya untuk Kebaikanku. Suka Duka dipakai-Nya untuk kebaikanku.
Balada tangis memang harus ada dan tetap akan ada dalam hidup kita. Jangan sia-siakan kemerdekaan ini untuk menyatakan cinta dan terima kasih kepada orang-orang yang kita sayangi baik jauh atau dekat. Selalulah berucap, hari ini adalah hari terakhir aku bertemu mereka – karenanya aku ingin membuatnya bahagia sehingga tiada lagi duka merana kala dia tiada kelak
Selamat jalan Sobat, Saudara, Tuan, Nyonya, Om, Tante, Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Mina, Mama, Pahari, Aken, Esu, suatu saat kita akan berjumpa kembali di Alam Permai Kota Yang Indah Cerah itu.
Mengenang almarhum-almarhumah :
- Ayahanda Hans Enggu Undjung (16 Maret 1999)
- Ibu Mertua Normaida Saha Pahan
- Kakanda Lita Kitara Pahan, S.Pd
- Kakeknda Timotius Luhut Sera (Bue Betung)
- Neneknda Tambi Betung (Theresia Bingan)
- Bue “Leguy” Hendrik Enggu Undjung
- Tambi Hurung Bunut (Elizabeth Daron)
- Teman setiaku, Riady S. Antang, S.Pd
- Pamanda Wilmar Sera (Mama Bapa Ampuh)
- Pamanda Ignatius T.L. Sera (Mama Bapa Rita)
- Pamanda Puruk Menggang (Mama Bapa Novi)
- Bapanda Martomo Hans Geger, SE
- Ananda Hanter Letlora
- Ibu Kalanis
- Ibu Dra. Aprilina Ester
- Ibu dr. Nilawinda (istri Pak Bambang Widjanarko) (Februari 2009)
- Ibunda dari Novilia Fosfaters (Minggu, 22 Februari 2009)
- Ayahanda Rahma (Januari 2009)
- Ayahanda Dina Christy Kindi





















makanya selagi mereka masih hidaup berbuat baiklah kepada mereka. berilah kesenangan kepada mereka. jgn bwt mereka sedih. sehingga ketika meeka berpulang nnt qta tidak akan merasa bersalah.
memang kehilangan seseorang yg qta sayangi itu sangat menyedihkan. pa lagi qta sebelumnya berada jauh dari mereka tiba2 da berita saudara qta da yg meninggal. pasti rasanya sakit bgt.
memang pertama kali ketika pak SBY terpilih menjadi presiden byk bencana alam yg terjadi seperti tsunami, gempa bumi dsb. tpi itu bukanlah kesalahan pak SBY melainkan takdir dari Ilahi. qta tidak bisa menuduh bgtu saja kesalahan itu ke orang lain perhatikan diri qta terlebih dahulu.
Memang sungguh sangat menyedihkan …
Ga bisa kebayang dech…
Pengen marah…tapi marah sama sapa…
Sma TUhan….
Ga mungkin kah…
kita harus menerima semua takdir yang diberikan Tuhan,…./.
Ada Kehidupan pasti ada Kematian…
Hiodup dan amati ada di tangan Tuhan…
Jngan menyesali yang telah pergi,…..
Yakinlah bahwa Ia telah tenang di alam sana…
Tuhan akan selalu menyertai kita….
Semuanya,
orang tua, teman, maupun jabatan akan kita tinggalkan.
Entah hari ini, esok, atau lusa.
Kita mungkin jarang untuk mengingat kematian.
Padahal dengan mengingatnya prilaku kita akan menjurus pada tanggung jawab atas prilaku trhadap Yang Kuasa!