Langsung ke isi

Kematian ?

22/02/2009

Jika kita menonton thriller apa kek, yang ada tokoh protagonis dan antagonis. Selalu digambarkan adegan klimaks adalah kill to kill yang pasti salah satu atau salah dua dari tokoh tersebut meninggal dunia. Apakah tewas mengerikan atau bagaimana, yang pasti endingnya dead.

fenomena film horor sejak tusuk jaelangkung mulai membahanakan aroma kematian seperti itu. Nah, yang tidak pernah terpikirkan adalah ….

bagaimana yo, yang meninggal tadi diurus … (apakah karena hanya ending dari sebuah movie lalu habis perkara). sementara kadang-kadang film itu berembel-embel based on true story de el el lah pokoknya …

Nah, pada acara kematian tersebut, tentu ada penguburan, perkumpulan duka cita, perkumpulan kematian seperti yang sering ditayangkan pada sinetron religi baik di TPI atau Indosiar atau sinetron bernafas serupa.
Pasti ada yang menangis, baik diterima atau tidak terima, rela atau tidak rela … namun penonton selalu diperdaya bahwa kematian adalah sebuah hal yang wajar dan jenasah setelah “dimatikan” pun tidak perlu diurus.

Apakah bukan ini salah satu indikasi merebaknya budaya kekerasan, budaya ketidakpedulian terhadap sesama, budaya tega, dan semacamnya. Yang nanti dimunculkan, jika ada bibit kekerasan karena

SEMUA SALAH GURUNYA TIDAK BISA MENGAWASI KELAKUAN SISWA !!!
GURU TIDAK BECUS – KARENA MEMBIARKAN KEKERASAN TERJADI
GURU SEBAGAI OKNUM PENYUBUR BUDAYA KEKERASAN DI SEKOLAH.

Maka, jika kita sebagai masyarakat apalagi jurnalis dan media pers menyuburkan paradigma demikian, dipastikan akan ada pihak yang tersudut dan lama-kelamaan menjadi STIGMA yang berbahaya. Bahwa budaya kekerasan tumbuh dan disuburkan dalam INSTITUSI PENDIDIKAN ! DAN ITU SEMUA TANGGUNG JAWAB SERTA KEWENANGAN DARI GURU …. padahal tidak seluruhnya benar pandangan ini … apa peran serta masyarakat ? memvonis saja atau tinggal mengarahkan telunjuk bahwa GURU SALAH ?

Padahal sebagaimana sinetron-sinetron, tayangan-tayangan yang memakan waktu prime time di jajaran lembaga penyiaran di republik ini juga menggambarkan tindak kekerasan dalam rumah tangga, tempat kerja, sekolah, lingkungan masyarakat dengan enaknya melenggang tayang di depan jutaan pasang mata pemirsa seluruh Nusantara bahkan dunia ? Bukankah itu pembiaran juga ?

Saya kuatir stigma tersebut, berturut-turut muncul setelah derasnya arus pemberitaan kekerasan, kekerasan di sekolah oleh geng-geng (Pati, Jakarta, Temanggung, Mojokerto, Palangka Raya), kekerasan oleh Guru (seperti di Palembang, Timika Papua, de el el) … belum lagi ada aparat keamanan juga melakukan tindak kekerasan atas sesamanya (seperti di Ambon dan Sulawesi tenggara – sumber dari pemberitaan media elektronik TV).

Ayolah … bagaimana kita semua elemen bangsa memandang bahwa ini adalah BAHAYA LATEN – tidak hanya KOMUNIS semata atau NARKOBA/ NAPZA juga, namun SIKAP MENTAL FEODALISTIK YANG HAUS HEGEMONI sebagai manifestasi dari HUBUNGAN SENIOR JUNIOR alhasil menjadi hubungan SUPERIOR DAN SUBORDINAT (lama kelamaan loh).

Coba setiap pakar yang berpendapat membangun suasana konstruktif dan lain sebagainya itu, terjun langsung Ke Lembaga Sekolah tersebut, biar bisa merasakan apa yang dirasakan para guru saat ini. Serta berikan tindakan konkrit bagaimana MENIADAKAN BUDAYA KEKERASAN DALAM SEKOLAH itu dulu, baru komentar yang serba IDEALIS.

Atau yang enak bermunculan Kak-Kak Seto ke seluruh sekolah se-Indonesia agar bisa menyatakan gambaran idealis mendidik yangtepat dengan kondisi kekinian yang semakin lama semakin keras.

Sehingga nanti akan ada sosialisasi penanggulangan Bahaya kekerasan di Kalangan generasi muda atau merebaknya budaya kekerasan di Sekolah – lalu ada workshop dan melahirkan banyak fasilitator yang akan keliling seluruh Indonesia dengan melibatkan public figur dan lain semacamnya.

sekedar usul boleh kan, …. :cry:

5 Komentar leave one →
  1. mu2gammabunta permalink
    23/02/2009 12:29

    saat ini banyak yg menayangkan tindak kekerasan pada media elektronik.
    hal itu sulit dihindari karena ktai sulit memisahkan media elektronik tersebut dari kehidupan sehari-hari
    mungkin jam tayang film2 tersebut yg di atur secara benar akan mengurangi efek negatif tersebut

  2. GRACE-XI IA2 permalink
    22/02/2009 18:30

    Sekarang kan banyak peristiwa bunuh2an…..
    Wah itu menandakan nilai2 agama dan moral kita sudah mulai tidah diperhatiakn lagi….

    dunia sudah semakin bosan dan sudah semakin tua :mad:

  3. GRACE-XI IA2 permalink
    22/02/2009 18:27

    Wah saya paling suka tuch nonton film yang bunuh2an….
    tapi kalo ngeliat langsung ngeri ga brani saya….

  4. 22/02/2009 17:00

    Maaf Ralat bukan KPK tetapi KPI (KOMISI PENYIARAN INDONESIA)

    KPI masih menunggu pengaduan masyarakat, bersyukurlah sekarang banyak tugas malam sehingga waktu menonton semakin berkurang :D

  5. 22/02/2009 16:48

    Ya bener Pak!
    Skarang ini tindak kkerasan sudah dianggap biasa. Baik itu d lngkungan rumah tangga (KDRT), lngkungan sekolah, masyarakat maupun komunitas. Hal ini sbenarnya bs d sbabkan pemberitaan media. Contohnya saja d beberapa negara Oceania yg remajanya banyak bunuh diri hanya karna brita 1-3 orng bunuh diri.
    Indonesia memang memiliki KPK tetapi peran komisi trsebut masih patut d pertanyakan. Msh bnyak jg siaran TV yg tdk mendidik malah mencontohkan hal yg tdk baik. Sehingga tdk heran mendengar anak usia 8 tahun membunuh temennya dan meninggal dngn asumsi hal yg biasa bg publik:-)

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.