Lompat ke isi

Memancing Emosi

06/09/2009

Selama ini pelajaran di kelas, terutama fisika lebih banyak memancing kemampuan berpikir otak sebelah kiri dibandingkan menggunakan otak sebelah kanannya …

Nah, teknik berikut adalah teknik yang akan coba kita kemas dan praktekkan di kelas, semoga suasananya menjadi berbeda …

Rasakan … Feel It and Do Not Forget to Try it beside Blend it with

Coba hitunglah : tanpa kalkulator

11 x 11
22 x 22
33 x 33
44 x 44
55 x 55
66 x 66
77 x 77
88 x 88
99 x 99

Coba hitunglah : Masih tanpa kalkulator …
15 x 15
25 x 25
35 x 35
45 x 45
55 x 55
65 x 65
75 x 75
85 x 85
95 x 95
105 x 105
115 x 115

Tariklah nafas yang dalam dan panjang …
Biarkan nafas itu mengalir perlahan dan sempurna …
Aturlah nafas anda dengan ritme yang agung ….
Biarkan sugesti ini mengalir dalam diri anda …


BAYANGKAN … BAYANGKAN …. BAYANGKAN ….
Wajah ibu anda sekarang ……… hmmmmmmmmm
Wajah Bunda yang semakin tua ….. hmmmmmmm
Semakin renta dimakan usia ….. hmmmmmmm
Semakin lusuh, layu, diserap waktu

Bayangkan ….
Wajah ibu anda saat masih muda ……….
Dalam bingkai pigura di masa emasnya
Di saat berpasangan dengan Ayah anda yang gagah dan tampan
Mereka berdua bersanding bersama di pelaminan
Sambil tersenyum kepada ANDA …
Wajah ibu anda saat gembira sekali, Bahagia sekali waktu itu …
Waktu bergulir, hari berganti, masa bertambah …
Bunda gembira karena tengah mengandung anaknya ….
Betapa bahagianya bunda dengan kandungannya ini …
Dalam kandungannya itu Anda tengah dibentuknya …
Tiap hari Bunda menyanyikan senandung merdu
sambil mengelus perutnya yang semakin membesar
Pertanda Sang Jabang Bayi tengah merasakan bahagia
walau tak melihat …
namun turut merasa elusan Bunda …
Tiba harinya, Sang Bunda ketakutan – sangat takut -
Akankah Sang Jabang terlahir selamat ?
Ataukah aku yang tidak selamat (Ujar Bunda dalam batinnya)
Bunda sekuat tenaga, mengerang, merintih, berteriak, mendorong,
memaksa sesuatu dalam badannya untuk keluar
Sampai waktunya, lahirlah ANDA dengan jerit tangis bayi
membahana ke seluruh persada jagat raya
Dalam keadaan bersimbah darah Anda diraup oleh perawat untuk dibersihkan,
dibersihkan jalan nafasnya agar bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya
Sementara Bunda masih dibiarkan telentang tak berdaya
dalam memperjuangkan lahirnya Anda
Dalam keadan lemas tak bertenaga, Bunda hanya bisa berpasrah
menghitung dan mengira-ngira
Bagaimana keadaan anakku ? Sehatkah dia ?
Bagaimanakah rupanya ? Sempurnakah dia ?
Dan akhirnya, Anda diserahkan kembali kedekapan Mama Tercinta
Bunda mulai meraba tangan kecil nan mungil
masih bersaput merah merona,
Tangan yang hangat dan lembut
Dimulainya dari tangan kanan sang Bayi mungil
Dihitungnya jari-jemari kecil itu, … satu, dua, tiga, empat, lima …
Ah … sempurna, pekik Bunda dalam hatinya …
Tangan mungil yang kiri kembali dilirik bunda sambil dijaga
didekapan di dadanya
Juga dihitung sempurna …

Kembali dipandangnya kedua bola mata mungil
Diciumnya kedua pelupuk mata sang Bayi Kecil
Sambil didekap mesra dan hangat
Lucunya binar sepasang bola mata kecil ini …

Tak terasa air mengalir menetes di kedua pipi Mama
Ah Tidak sia-sia aku mengandung 9 bulan 10 hari
ujar Bunda dalam hati
Sambil memandangi wajah mungil sang bayi
yang baru saja dibawa ke muka bumi
Bayangkan betapa bahagianya Bunda
memandangi Anda yang baru tiba di dunia
Bayangkan ….
Bayangkan …
Bayangkan
raut wajah bunda yang semakin tua,
semakin renta, semakin kusut, semakin rapuh, semakin tak berdaya,
Rona wajah Bunda penuh kesedihan, bercampur kekesalan
Mengapa anakku yang kulahirkan dulu,
Tanpa mempertimbangkan keselamatanku,
Kupertaruhkan jiwa ragaku untuk membesarkan dan melahirkannya

Sekarang berbeda, Sekarang Ia Berubah !
Sekarang Ananda berani melawan aku,
Sekarang Ananda berani mencaci diriku,
Sekarang Ananda berani memarahi aku,
Ujar Bunda dalam batinnya !
Apakah Karena Bunda tidak pandai,
Apakah Karena Bunda tidak tinggi sekolahnya,
Apakah Karena Bunda kuno,
Apakah karena bunda kurang pergaulan, tidak modis,
Apakah karena Bunda tidak mengerti
anak muda zaman sekarang …

Bunda ketinggalan zaman …
Bunda ditinggalkan …

Bunda Merana, Bunda Sengsara, Batin Bunda  Meronta
Hati Bunda pilu, merintih, pedih perih layak diiris sembilu

Akankah Andabiarkan Bunda larut dalam kesedihannya ?
Akankah Anda biarkan Bunda merana dalam laranya ?
Akankah Anda bersikukuh dengan pikiran Anda ?

Sudikah Anda memaafkan Bunda ?
Bersediakah Anda memahami Bunda ?
Maukah Anda bersujud dikaki Bunda ?

Bunda yang sudah memelihara ananda
Bunda yang sudah membesarkan ananda
Bunda yang tetap memberi semangat
Bunda yang tidak surut tetap berada di samping anda

Bunda menjadi teman bermain ananda
Bunda menjadi sahabat terkarib ananda
Bunda tempat curahan hati kekesalan ananda

Bukalah pori-pori tubuh Anda untuk menerima
Gelombang Penyesalan ini
Biarkan air mata penyesalan mengalir deras
Biarkan batin anda berkecamuk remuk redam
Jangan dilawan, biarkan lepas, biarkan bebas,
bebaskan tangisan anda
Bebaskan perlawanan anda
Hanyutlah dalam arus sungai penyesalan
Mengalirlah deru pertobatan
Biarkan kedamaian itu merasuk kalbu
Turutlah irama itu
Ikutilah gelombang kedamaian itu
dalam perasaan anda
Biarkan damai itu hinggap
dan jangan terlepas lagi
Jangan terlepas lagi
Jangan terlepas lagi
Jangan ….
Terlepas ….
Lagi ….

23 Komentar leave one →
  1. 09/09/2009 17:26

    mungkin dengan bahan renungan ini bisa menyegarkan kembali pikiran kita..

    membuang jauh-jauh perasaan duka supaya kita dapat hadapi hari esok dengan hati yang ikhlas..

    meski hari ini kita tak dapat menghadapi apa yang terjadi esok..
    tapi dengan merenungkan apa masalah kita , siapa yang telah menyakiti kita, bagaimana kita menghadapi masalah tersebut, berpikir jauh kedalam lubuk hati itu.. membawa kita pada jalan keluar..
    menimbang setiap detik yang sangat berharga itu dapat membawa kita pada kedewasaan….

    relakan apa yang telah terjadi.. jadikan penyesalan itu tidak sia-sia dengan mencari “arti” dr setiap perkara..

    saat merenungkan stiap perkara yang terjadi.. bukan tidak mungkin kan pak membuat seseorang mengalirkan air mata. hehe :D :D
    hadapi hari esok..jgn pernah takut akan masalah,, jangan pernah berlari .. tapi lihatlah apa yg dapat kita buat hari ini….
    smangatt terus~

  2. rezagates permalink
    08/09/2009 18:27

    wahahahahahaha…
    trnyta salah pak.. yg bnr yg bapak kta kn d kelas tadi……
    ORANG YANG BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN NYA ADALAH SEORANG REAL CHAMPS SESUNGGUHNYA

  3. rb13 permalink
    08/09/2009 17:47

    penyesalan buat perbaikan

    perbaikan buat permulaan

    permulaan buat perjuangan

    perjuangan buat pencapaian

    pencapaian buat senyum di hati orang tua . . .

    waw, sugestion teraphy-nya manjur pak!
    jadi lebih menghargai tiap helaan nafas yang Tuhan beri, sama tiap langkah kaki yang ibu dan ayah awasi dengan penuh kasih . . .

  4. rezagates permalink
    08/09/2009 07:12

    yupz kita pasti dpt bekal brharga pak dengan menghitung cepat ny.
    hmmmmm…….
    saya tau pak…. dengan merenung kembali kita dapat menyesuaikan diri kita dengan realita hidup yang ada…..
    sebuah perjuangan mempertahankan punya dia…. sampai mati pun d perjuangkan,,,,
    seperti seorang ibu yang mengandung 9 bulan lama ny dan menghadapi hidup dan mati ketika melahirkan…..
    dengan itu sdemua kita harus bisa menghargai perjuangan hidup ibu kita,,,,, sama saja kita harus menghargai semua orang…..
    atau salah pak ?

    tidak salah pendapat Reza …. lanjutkan !

  5. gladysa194 permalink
    08/09/2009 07:07

    wah, mantep banget renungannya, Pak!!!
    pas banget buat anak-anak (termasuk saya juga sih) jaman sekarang yang mulai kurang menghormati orangtuanya, terutama ibu.
    biar mereka bisa merenung dan sadar atas apa yang telah mereka lakukan.

  6. ihsanulirfan permalink
    07/09/2009 21:10

    Thank you for the material sir. and your poetry is so fabulous. it’s amuse me.

    did you try to wrote poetry ?

  7. dhina14 permalink
    07/09/2009 20:42

    bagus nhe pak,
    buat di coba,.,
    ,., sugestinya,.,.

    metode terbaru,.,., n pztinya,., bkakl bermanfaaat,.,.,.

  8. 07/09/2009 20:15

    pak.. kok saya jadi nangis gini…? hehehe :D itu renungan ya pak?? wah wahh

  9. diahintan165 permalink
    07/09/2009 19:41

    biar gimana pun juga, dia tetep ibu kita…
    terimaksih telah merawat kami.
    terimakasih pak atas renungan nya,,. ^_^
    succes,,

  10. 07/09/2009 18:51

    seperti menghitung dengan jari ya pa.
    harus sering-sering berlatih nih .

  11. 07/09/2009 17:13

    ah tidak!! di klas nggk sempat ngerasaain…
    cuma sempat ngerekam ‘n ngejepret ekspresi teman2…
    yang mau lihat, silakan ke sini
    http://rasyid14.wordpress.com/2009/09/07/fogging-at-palangkaraya/

    yang penting ada dokumennya, yang saya heran selesai acara tadi nggak ada satu pun pesertanya yang mau memberi komentarnya langsung atau komentar disini ? :mrgreen:

  12. yunitasa permalink
    07/09/2009 14:21

    IBU…perempuan yang sudah melahirkanku ke dunia dengan taruhan nyawanya. tak ada yang bisa kuberi selain prestasi yang harus kudapatkan. sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa membalas jasanya…trimakasih Ibu dan trimakasih Pak Rudy, yang telah meuat rangkaian kata begitu menyentuh dan menyulut emosi dalam diriku….

  13. rezagates permalink
    07/09/2009 06:57

    waduh pak….
    kcepatan saya mnghitung munking setara dgn 2.5 mnt / soal……..
    ckckckckckckck……..
    kya mobil yg lg mogok aj pak…… hehehehehehe….
    tp pak yg mw saya tanya apa maksud dari :
    1. tes menghitung tanpa kalkulator?
    2. tes emosi (selain merenung kembali semua kesalahan kita kepada ibu tercinta kita) ?

    suatu saat kamu akan tahu manfaatnya …. kan bekal namanya ?

  14. Yunior Rahmawan usop_XI IPA 5 permalink
    07/09/2009 00:33

    nemu blog biar bisa ngitung cepet…
    Klik sugesti saya

    hehehe … akhirnya ketemu juga, sebenarnya saya mau menampilkan link-nya tapi biarlah saya menunggu yang kreatif dan akhirnya Yonk juga yang menyebutkan :D

  15. fadhlipsicho permalink
    06/09/2009 21:22

    jangan lah durhaka pada ibu kita,
    kita tak pernah tau bagaimana perjuangannya melahirkan kita!
    hehe
    .
    thanks atas sugestinya pak!

  16. rainlick permalink
    06/09/2009 18:46

    PAk..keren bangt pak crtanya…

    Bnr” sebuah realita hdup…

    keren bangt pak…

    Oia pak..^^

    hehehhe…saya mash lambat menghitung angka”nya pak…

  17. mario permalink
    06/09/2009 18:37

    duch…. saya udh coba menghitungnya pak tp msh lambat

  18. mnizamsw permalink
    06/09/2009 18:11

    Saya udh coba menghitung nya

    tetapi saya masih lambat

    saya akan berusaha untuk melancarkannya

    trims pak

  19. Meri permalink
    06/09/2009 08:44

    Keren pak.. . Tapi lagi puasa ne pak… ruz bisa tahan emosi…

    justru untukmenguatkan niat beribadah puasalah, lakukan sugesti ini agar puasanya berhasil dan memang bertujuan, tidak hanya sekedar menahan tanpa istigfar :D

  20. 06/09/2009 08:19

    @putra : dicoba dahulu dengan kalkulator, teliti dan perhatikanlah polanya :D

    @kawanlama95 : terima kasih atas kunjungan anda …

    @enda : dari bahan kuliah, selamat mencoba membersihkan jiwa dengan latihan sugesti

  21. 06/09/2009 06:50

    keren pa….itu bikinan bapa sendiri??? keren….
    terharu pa setelah lia abaca sugestinya lia sedih pernah bikin mamah sedih…
    makasih pa penyegarannya…:)

  22. 06/09/2009 06:41

    kali2 an nya ga saya hitung masih sulit

    ibunda kita memang tiada duanya.dia yang melahirkan kita jadi , tiada katlain adalah .berbajti kepadanya

  23. putrausop permalink
    06/09/2009 05:54

    hiksssss hikssss hikssss sedih banget ceritanya terharu aku
    saya sudah coba menghitungnya tapi masih lambat sekali

Bagi yang merasa berkenan berkomentar, sudilah mendaftarkan diri dahulu sebagai pengguna wordpress.com

Please log in using one of these methods to post your comment:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.