Memancing Emosi
Selama ini pelajaran di kelas, terutama fisika lebih banyak memancing kemampuan berpikir otak sebelah kiri dibandingkan menggunakan otak sebelah kanannya …
Nah, teknik berikut adalah teknik yang akan coba kita kemas dan praktekkan di kelas, semoga suasananya menjadi berbeda …
Rasakan … Feel It and Do Not Forget to Try it beside Blend it with
Coba hitunglah : tanpa kalkulator
11 x 11
22 x 22
33 x 33
44 x 44
55 x 55
66 x 66
77 x 77
88 x 88
99 x 99
Coba hitunglah : Masih tanpa kalkulator …
15 x 15
25 x 25
35 x 35
45 x 45
55 x 55
65 x 65
75 x 75
85 x 85
95 x 95
105 x 105
115 x 115
Tariklah nafas yang dalam dan panjang …
Biarkan nafas itu mengalir perlahan dan sempurna …
Aturlah nafas anda dengan ritme yang agung ….
Biarkan sugesti ini mengalir dalam diri anda …
BAYANGKAN … BAYANGKAN …. BAYANGKAN ….
Wajah ibu anda sekarang ……… hmmmmmmmmm
Wajah Bunda yang semakin tua ….. hmmmmmmm
Semakin renta dimakan usia ….. hmmmmmmm
Semakin lusuh, layu, diserap waktu
Bayangkan ….
Wajah ibu anda saat masih muda ……….
Dalam bingkai pigura di masa emasnya
Di saat berpasangan dengan Ayah anda yang gagah dan tampan
Mereka berdua bersanding bersama di pelaminan
Sambil tersenyum kepada ANDA …
Wajah ibu anda saat gembira sekali, Bahagia sekali waktu itu …
Waktu bergulir, hari berganti, masa bertambah …
Bunda gembira karena tengah mengandung anaknya ….
Betapa bahagianya bunda dengan kandungannya ini …
Dalam kandungannya itu Anda tengah dibentuknya …
Tiap hari Bunda menyanyikan senandung merdu
sambil mengelus perutnya yang semakin membesar
Pertanda Sang Jabang Bayi tengah merasakan bahagia
walau tak melihat …
namun turut merasa elusan Bunda …
Tiba harinya, Sang Bunda ketakutan – sangat takut -
Akankah Sang Jabang terlahir selamat ?
Ataukah aku yang tidak selamat (Ujar Bunda dalam batinnya)
Bunda sekuat tenaga, mengerang, merintih, berteriak, mendorong,
memaksa sesuatu dalam badannya untuk keluar
Sampai waktunya, lahirlah ANDA dengan jerit tangis bayi
membahana ke seluruh persada jagat raya
Dalam keadaan bersimbah darah Anda diraup oleh perawat untuk dibersihkan,
dibersihkan jalan nafasnya agar bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya
Sementara Bunda masih dibiarkan telentang tak berdaya
dalam memperjuangkan lahirnya Anda
Dalam keadan lemas tak bertenaga, Bunda hanya bisa berpasrah
menghitung dan mengira-ngira
Bagaimana keadaan anakku ? Sehatkah dia ?
Bagaimanakah rupanya ? Sempurnakah dia ?
Dan akhirnya, Anda diserahkan kembali kedekapan Mama Tercinta
Bunda mulai meraba tangan kecil nan mungil
masih bersaput merah merona,
Tangan yang hangat dan lembut
Dimulainya dari tangan kanan sang Bayi mungil
Dihitungnya jari-jemari kecil itu, … satu, dua, tiga, empat, lima …
Ah … sempurna, pekik Bunda dalam hatinya …
Tangan mungil yang kiri kembali dilirik bunda sambil dijaga
didekapan di dadanya
Juga dihitung sempurna …
Kembali dipandangnya kedua bola mata mungil
Diciumnya kedua pelupuk mata sang Bayi Kecil
Sambil didekap mesra dan hangat
Lucunya binar sepasang bola mata kecil ini …
Tak terasa air mengalir menetes di kedua pipi Mama
Ah Tidak sia-sia aku mengandung 9 bulan 10 hari
ujar Bunda dalam hati
Sambil memandangi wajah mungil sang bayi
yang baru saja dibawa ke muka bumi
Bayangkan betapa bahagianya Bunda
memandangi Anda yang baru tiba di dunia
Bayangkan ….
Bayangkan …
Bayangkan
raut wajah bunda yang semakin tua,
semakin renta, semakin kusut, semakin rapuh, semakin tak berdaya,
Rona wajah Bunda penuh kesedihan, bercampur kekesalan
Mengapa anakku yang kulahirkan dulu,
Tanpa mempertimbangkan keselamatanku,
Kupertaruhkan jiwa ragaku untuk membesarkan dan melahirkannya
Sekarang berbeda, Sekarang Ia Berubah !
Sekarang Ananda berani melawan aku,
Sekarang Ananda berani mencaci diriku,
Sekarang Ananda berani memarahi aku,
Ujar Bunda dalam batinnya !
Apakah Karena Bunda tidak pandai,
Apakah Karena Bunda tidak tinggi sekolahnya,
Apakah Karena Bunda kuno,
Apakah karena bunda kurang pergaulan, tidak modis,
Apakah karena Bunda tidak mengerti
anak muda zaman sekarang …
Bunda ketinggalan zaman …
Bunda ditinggalkan …
Bunda Merana, Bunda Sengsara, Batin Bunda Meronta
Hati Bunda pilu, merintih, pedih perih layak diiris sembilu
Akankah Andabiarkan Bunda larut dalam kesedihannya ?
Akankah Anda biarkan Bunda merana dalam laranya ?
Akankah Anda bersikukuh dengan pikiran Anda ?
Sudikah Anda memaafkan Bunda ?
Bersediakah Anda memahami Bunda ?
Maukah Anda bersujud dikaki Bunda ?
Bunda yang sudah memelihara ananda
Bunda yang sudah membesarkan ananda
Bunda yang tetap memberi semangat
Bunda yang tidak surut tetap berada di samping anda
Bunda menjadi teman bermain ananda
Bunda menjadi sahabat terkarib ananda
Bunda tempat curahan hati kekesalan ananda
Bukalah pori-pori tubuh Anda untuk menerima
Gelombang Penyesalan ini
Biarkan air mata penyesalan mengalir deras
Biarkan batin anda berkecamuk remuk redam
Jangan dilawan, biarkan lepas, biarkan bebas,
bebaskan tangisan anda
Bebaskan perlawanan anda
Hanyutlah dalam arus sungai penyesalan
Mengalirlah deru pertobatan
Biarkan kedamaian itu merasuk kalbu
Turutlah irama itu
Ikutilah gelombang kedamaian itu
dalam perasaan anda
Biarkan damai itu hinggap
dan jangan terlepas lagi
Jangan terlepas lagi
Jangan terlepas lagi
Jangan ….
Terlepas ….
Lagi ….




















mungkin dengan bahan renungan ini bisa menyegarkan kembali pikiran kita..
membuang jauh-jauh perasaan duka supaya kita dapat hadapi hari esok dengan hati yang ikhlas..
meski hari ini kita tak dapat menghadapi apa yang terjadi esok..
tapi dengan merenungkan apa masalah kita , siapa yang telah menyakiti kita, bagaimana kita menghadapi masalah tersebut, berpikir jauh kedalam lubuk hati itu.. membawa kita pada jalan keluar..
menimbang setiap detik yang sangat berharga itu dapat membawa kita pada kedewasaan….
relakan apa yang telah terjadi.. jadikan penyesalan itu tidak sia-sia dengan mencari “arti” dr setiap perkara..
saat merenungkan stiap perkara yang terjadi.. bukan tidak mungkin kan pak membuat seseorang mengalirkan air mata. hehe

hadapi hari esok..jgn pernah takut akan masalah,, jangan pernah berlari .. tapi lihatlah apa yg dapat kita buat hari ini….
smangatt terus~
wahahahahahaha…
trnyta salah pak.. yg bnr yg bapak kta kn d kelas tadi……
ORANG YANG BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN NYA ADALAH SEORANG REAL CHAMPS SESUNGGUHNYA
penyesalan buat perbaikan
perbaikan buat permulaan
permulaan buat perjuangan
perjuangan buat pencapaian
pencapaian buat senyum di hati orang tua . . .
waw, sugestion teraphy-nya manjur pak!
jadi lebih menghargai tiap helaan nafas yang Tuhan beri, sama tiap langkah kaki yang ibu dan ayah awasi dengan penuh kasih . . .
yupz kita pasti dpt bekal brharga pak dengan menghitung cepat ny.
hmmmmm…….
saya tau pak…. dengan merenung kembali kita dapat menyesuaikan diri kita dengan realita hidup yang ada…..
sebuah perjuangan mempertahankan punya dia…. sampai mati pun d perjuangkan,,,,
seperti seorang ibu yang mengandung 9 bulan lama ny dan menghadapi hidup dan mati ketika melahirkan…..
dengan itu sdemua kita harus bisa menghargai perjuangan hidup ibu kita,,,,, sama saja kita harus menghargai semua orang…..
atau salah pak ?
wah, mantep banget renungannya, Pak!!!
pas banget buat anak-anak (termasuk saya juga sih) jaman sekarang yang mulai kurang menghormati orangtuanya, terutama ibu.
biar mereka bisa merenung dan sadar atas apa yang telah mereka lakukan.
Thank you for the material sir. and your poetry is so fabulous. it’s amuse me.
bagus nhe pak,
buat di coba,.,
,., sugestinya,.,.
metode terbaru,.,., n pztinya,., bkakl bermanfaaat,.,.,.
pak.. kok saya jadi nangis gini…? hehehe
itu renungan ya pak?? wah wahh
biar gimana pun juga, dia tetep ibu kita…
terimaksih telah merawat kami.
terimakasih pak atas renungan nya,,. ^_^
succes,,
seperti menghitung dengan jari ya pa.
harus sering-sering berlatih nih .
ah tidak!! di klas nggk sempat ngerasaain…
cuma sempat ngerekam ‘n ngejepret ekspresi teman2…
yang mau lihat, silakan ke sini
http://rasyid14.wordpress.com/2009/09/07/fogging-at-palangkaraya/
IBU…perempuan yang sudah melahirkanku ke dunia dengan taruhan nyawanya. tak ada yang bisa kuberi selain prestasi yang harus kudapatkan. sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa membalas jasanya…trimakasih Ibu dan trimakasih Pak Rudy, yang telah meuat rangkaian kata begitu menyentuh dan menyulut emosi dalam diriku….
waduh pak….
kcepatan saya mnghitung munking setara dgn 2.5 mnt / soal……..
ckckckckckckck……..
kya mobil yg lg mogok aj pak…… hehehehehehe….
tp pak yg mw saya tanya apa maksud dari :
1. tes menghitung tanpa kalkulator?
2. tes emosi (selain merenung kembali semua kesalahan kita kepada ibu tercinta kita) ?
nemu blog biar bisa ngitung cepet…
Klik sugesti saya
jangan lah durhaka pada ibu kita,
kita tak pernah tau bagaimana perjuangannya melahirkan kita!
hehe
.
thanks atas sugestinya pak!
PAk..keren bangt pak crtanya…
Bnr” sebuah realita hdup…
keren bangt pak…
Oia pak..^^
hehehhe…saya mash lambat menghitung angka”nya pak…
duch…. saya udh coba menghitungnya pak tp msh lambat
Saya udh coba menghitung nya
tetapi saya masih lambat
saya akan berusaha untuk melancarkannya
trims pak
Keren pak.. . Tapi lagi puasa ne pak… ruz bisa tahan emosi…
@putra : dicoba dahulu dengan kalkulator, teliti dan perhatikanlah polanya
@kawanlama95 : terima kasih atas kunjungan anda …
@enda : dari bahan kuliah, selamat mencoba membersihkan jiwa dengan latihan sugesti
keren pa….itu bikinan bapa sendiri??? keren….
terharu pa setelah lia abaca sugestinya lia sedih pernah bikin mamah sedih…
makasih pa penyegarannya…:)
kali2 an nya ga saya hitung masih sulit
ibunda kita memang tiada duanya.dia yang melahirkan kita jadi , tiada katlain adalah .berbajti kepadanya
hiksssss hikssss hikssss sedih banget ceritanya terharu aku
saya sudah coba menghitungnya tapi masih lambat sekali