Merenungi Nasib
Sekian lama aku merasa jenuh dengan keadaan pekerjaan dan lingkungan perkantoran, sudah saatnya untuk merenungi kembali nasib ini. Nasib ya nasib, mau diserahkan atau mau menyerah karena nasib, itu pilihan setiap orang. 
Ada kalanya kita harus mengalah, ada kalanya pula harus mengalahkan orang lain. Termasuk pula dengan saingan-saingan atau bahkan dengan orang-orang yang menurut kita jauh lebih tua. Entah tua usia, tua pengalaman, atau juga tua santan
Seperti kejadian yang “mengesankan” sekaligus “memprihatinkan”. Saya pernah berkaitan dengan beberapa orang teman “senior” (bukan senang istri orang lho). “Senior” ini sok nasehatin banget deh
kalo ada persoalan-persoalan jika dicurhatkan kepada “mereka-mereka”. Nah, kini lektur-lektur itu rupanya tidak berlaku sebagaimana resep “jitu” dari beliau-beliau, manakala yang mereka hadapi itu adalah SAYA !
Ya ! I’m their “enemy” weits … no no .. It’s to rude, I’m their rival just simple words from collague to rival or competitor in every sector.
![]()
Yak, sekarang beliau-beliau ini berival dengan diri saya atau istilah keyennya menjadi kompetitor. Baik dari segi pemikiran maupun juga “kenakalan” ![]()
Dulunya banyak pendapat, advis, dan masukan kritik saran yang saya terima dari “beliau” dan sekarang saya terapkan dalam strategi pencapaian “titik keunggulan” yaitu dengan menjadi pesaing itu tadi.
Wow wow wow, reaksi ekstrem-lah yang saya terima ! Mata bertatap, senyum tak mengembang. Mata bertatap lalu lidah menyalak dengan hardikan dan makian serta tudingan yang tidak berdasar dan hanya dibentuk di tengah tenggorokan !
Bagaimana jika itu anda ? Tentu saja, darah muda-nya Rhoma Irama langsung bergidik mengerikan memberi perlawanan, adrenalin terstimulasi untuk memberi kondisi barrier pertahanan diri berupa pelepasan molekul-molekul ATP ~ ADP ~ AMP sehingga terjadi kalorisasi dalam tubuh manusiawi untuk melakukan defensing. !
Hilang semua resep untuk mencoba bersabar, tawakal, eling, atau apa pun itu sebutannya. Tidak juga saya, malahan beliau-beliau ini pun seperti “kebakaran jenggot” menghadapi serangan yang tidak terduga.
Namun saya masih membuka hati dan nurani untuk bertanding memaafkan, dengan mengembang senyuman dan tatap mata perdamaian. Tetapi yang ada adalah lirikan tajam penuh dendam ! wow wow wow … itukah senior ? itukah orang tua yang sudah berpengalaman puluhan tahun ? Masakan menghadapi guru cecunguk macam saya, masih bergidik mendirikan bulu roma dan menegakkan bulu ala landak ? wow wow wow
Satu yang hanya bisa saya pikir dan renungkan serta rasakan menjelang akhir tahun ini, nasib ya nasib. Nasib sudah menjadi buburb apa biola kebab saja ? (read my lips : apa boleh bwat).
Saya hanya dapat berharap dalam batin, akankah SEJARAH akan BERULANG kembali ? Baca SEJARAH ! Dunia Atas Dunia Bawah !




















menurut saya,tidak semua persaingan itu berakibat permusuhan jika kita dapat mengatasinya dengan berpikir yang positif dan melakukan persaingan itu secara sehat dan juga saling bekerja sama…dan jika kita di cemooh ambilah itu sebagai pelajaran untuk memotivasi kita menjadi yg lebih baik jgn berpikir itu negatif..
yg mengakibatkan persaingan itu condong berakibat permusuhan itu karna kita mungkin kurang menyukai org tersebut dan berpikir negatif yg mengakibatkan gejolak amarah kita terpancing sehingga munculah permusuhan tersebut….
marah-marah habis bertengkar pak, ya?
ya sudah tenangkan dulu adem ayem.
baru setelah adem ayem, say minta pendapat bapak tentang ini.
bapak kan guru fisika, jadi bapak mungkin mengeti.
saya mohon maaf kalau saya salah.
bukannya marah mas, bukan pula habis bertengkar

tapi merenungi nasib saja
karena justru yang tua malah tak bisa memaafkan
saya mencoba mengerti dengan merenungi dan berbagi disini
siapa tahu malah dapat advis seperti sekarang …
tentu saja pak, jangan heran karena di dalam kehidupan ini selama semuanya masih ber-evolusi dan berjalan, keinginan dan sikap “egois”me itu masih ada.. hanya kasih yang membuktikan adanya “pengampunan”..
lalu, kita mau sebagai kanibalnya/aliennya atau mau jadi pengampunnya? hehe
saya balik lagi ke blog fisika nih pa..
haha..
ditengah sibuknya mengatur jadwal dan perayaan natal keluarga besar smada,
tetapi jenuh itu sudah dari awal sekarang ya suka tidak suka dijalani , toh namanya hidup pasti suatu saat akan mencapai titik jenuh.
cerita bapak diatas beda tipis sama saya di sekolah,

rival memang ada tetapi jangan sampai jadi enemy sih
memang persaingan itu ada tetapi herannya , itu malah menjadikan manusia semakin licik . bahkan sampai menjatuhkan teman sendiri .. istilah anak mudanya lah “teman makan teman”…
menurut saya sikap negativ seperti itu bukannya membuat Indonesia makin maju , justru bikin perpecahan dan negara kita akan berantakan..
berbeda lagi kalau bersaing yg sehat , itu justru lebih kompetitif dan menimbulkan adanya kerjasama bukan “saingan”…
balik lagi ke orangnya, apakah dia berada di zona negatif ataukah positif
walaupun itu hanya segelintir, namun sayang jika itu menjadi masalah besar bagi Indonesia. cukup itu bagi kamu dan saya saja, dan kitab suci pernah mengatakan saingan itu penting untuk “mengasah” kemampuan yang kita miliki biar semakin “tajam” dan “peka” terhadap perubahan. semakin banyak orang lain mencemooh, menyepelekan, bahkan memusuhi berarti harus “cabut” mengembangkan sayap ke dunia luar !
Istilahnya keluar dari konflik dengan nilai-nilai spiritual yang positif, seperti menulis Blog, menulis buku, menelaah pengembangan ilmu pengetahuan, mengembangkan pemikiran-pemikiran kritis demi perkembangan.
Karena biasanya rival condong untuk memberi penilaian buruk atau justifikasi negatif atas apa yang dipegangnya, yang dipijaknya, yang dikerjakannya dan juga berimbas pada lingkungan di mana rival itu berada.
iya .. memang pak, saingan itu condong berakibat permusuhan, geregetan, cemooh, menyepelekan kemampuan kita, pokoknya bersifat negatif dan menimbulkan permasalahan..
untuk itu sebelum “saingan itu” memulai lebih baik saya pergi dari zona kritisitisme itu yang mungkin berdampak kanibalisme “kelompok” .. hehe
dari semua yang buruk-buruk itu pasti akhirnya ada hasil yang baik-baik.. dan rasa semprotan air liur para rival yang “pahit-pahit” itu pasti akhirnya kita melihat dari atas perjuangan kita, bahwa usaha kita rasanya manis dan gak bakalan sepet di hati..
di kitab suci juga dikatakan “barangsiapa menabur benih yang baik, dia akan menuai hasilnya seperti pada saat ia menuai benihnya dan memilahnya yang terbaik,
tetapi barang siapa menabur keburukan, maka ia akan menerima semua seperti saat ia menaburnya.. ”
adanya hukum karma membuktikan kebenaran isi kitab suci tersebut.
adanya hukum timbal balik dan hukum sebab akibat terhadap si “pelaku utama” dalam roda kehidupan..
balik lagi kepada kita manusia,
sebelum semua terlambat.
@Pak Budi : komentar Bapak memberikan nuansa kedamaian dalam hati saya, walaupun hanya sejengkal kata
@Pak Willy : benar sekali pak, seandainya tidak ada kata itu … dunia ini tentu lebih hidup sebab kolaborasi antara kedua generasi itu yang diharapkan
Terima kasih atas input dari Bapak berdua, tidak menyangka ada juga yang menyanggong
wah saya banyak belajar dari pak rudy, walaupun saya lebih lama jadi guru
Ya. Begitu tampaknya yang terjadi dalam dunia senior yunior. Membosankan.