3rd week of October
Perjalanan minggu ini mengharuskan kami menginap di sebuah hotel “pinggiran” sebab penginapan yang biasa kami tempati dipenuhi “orang-orang dari Palangka Raya”
entah apa kerjaan orang-orang ini.
Dengan perasaan berat kami menginjakkan kaki di halaman penginapan berjuluk “Star Inn” harapannya sesuai dengan nama tersebut penginapan ini berkualitas bintang.
Dengan tarif 150k tanpa makan pagi seperti masih dikatakan “lumayan” untuk orang jauh tapi setelah ditelisik kondisinya, sepertinya harga itu adalah harga “memaksa”
… tempat tidur dengan sprei yang jarang dibersihkan betul-betul, perabotan meja dan lemari yang sudah usang dan berbau apek, tilam busa yang kawat menyembul-tonjolan seperti paku, dinding yang hanya dilapisi calsiboard atau lebih mirip triplek yang suara dari kamar samping bisa didengar jelas, wah pokoknya nggak cucok dengan tarif semestinya. ![]()
Apalagi tidak ada sarapan pagi dan welome drink, semakin parahlah penyambutan di motel ini. Cuma yang menggembirakan pendingin ruangnya masih baru LG art cool otomatis yang mati jika penghuninya tidak ada
, kamar mandinya sangat bersih dan harum, wastafel yang mejeng di pinggiran kamar pun layak dilirik untuk dipakai dengan aliran air yang tidak pernah berkurang karena menggunakan air tanah, meja makan dengan kursi lima buah, dan televisi 14 inci merek TCL yang sering mampus jika kabel antenanya tidak ditekan

Apalagi di jam-jam prime time about 9 pm – 2 am (ini jam malam) dapat dipastikan berbagai macam suara akan terdengar dari sisi mana saja di dalam kamar motel ini. Pokoknya seperti efek suara video XXX termasuk ketukan di pintu, di dinding kamar, suara ranjang berdenyit dan berbagai hal yang saru untuk ditulis di sini
… Hal ini yang semakin membuat jera kami memilih penginapan tersebut. Kecuali bagi anda yang menginginkan experience silakan dicoba terutama untuk hari Jumat dan Sabtu karena dapat dipastikan efek suara XXX akan semakin terdengar menghebat















