RSBI ?
Sungguh berat menyandang sebutan ini (saya berasumsi sidang pembaca yang budiman sudah tahu kepanjangan dari RSBI itu
) , apalagi dengan banyak kekurangan yang mesti ditambah sana dan sini, tetapi sebagai bagian dari cita-cita Bangsa Indonesia yang terintegrasi dengan semangat dan keinginan meningkatkan mutu pendidikan khususnya untuk wilayah Kalimantan Tengah yaitu mencapai motto Kalteng Harati yang dicanangkan oleh Gubernur Kalimantan Tengah tercinta, A. Teras Narang.
Semangat dalam RSBI sebagai titik tolak menuju peningkatan kualitas sekolah termasuk pengajarannya, termasuk sistemnya, termasuk pendanaannya dan penggunaan alokasi dana tersebut (yang diharapkan bisa terjangkau oleh masyarakat dan khalayak banyak, transaparan, dimengerti banyak pihak, dan didukung oleh berbagai komponen masyarakat termasuk orang tua di dalamnya sebagai pemanfaat langsung hasil sekolah berupa lulusan yang notabene adalah putra-putrinya), juga memenuhi asas pemerataan dan keberadilan pendidikan yang seluas-luasnya, dengan etos kerja dan etika para warganya dan segala sesuatunya yang ideal, sering menjadi tantangan tersendiri.
RSBI yang identik dengan pembayaran berbiaya mahal, pendanaan yang besar, pengelolaan yang profesional, sumber daya manusia yang siap, kelengkapan fasilitas, serta banyak hal-hal lainnya bukan berarti itu semua karena kesombongan sekolah yang ditunjuk, tetapi itu merupakan bagian dari PROSES yang tentu saja tidak semua proses tadi berjalan MULUS.
Sebagai bagian dari proses, RSBI bukan patut dipertanyakan ? Tapi patut untuk diperbaiki … semangat agar para peserta didik dapat maju bersaing ke tingkat internasional untuk sekolah yang terletak jauh dari pusat kekuasaan negara, jauh dari poros penentu kebijakan bangsa adalah semangat untuk berkompetisi, sekolah dengan semangat untuk maju, sekalipun yang dihadapi beribu rintangan tetapi tidak mundur selangkah pun.
Untuk kami yang berada di poros Kalimantan bagian tengah ini, cukup berat menyandang titel itu, apalagi dengan banyaknya pendapat skeptis, tudingan-tudingan miring, yang apriori sampai yang simpati, hingga dari As sampai flexy, tidak menyurutkan langkah-langkah merintis pembaharuan di Palangka Raya.
Sekalipun gaungnya tidak terlalu besar dan nyaring, tapi dengan dukungan berbagai komponen, kepercayaan masyarakat, keinginan pada guru dan pengelola sekolah untuk terus berkembang, membuka diri, transparantif, akomodatif, fleksibel, itu semua bertujuan agar seluruh warga muda di Palangka Raya mendapat kesempatan dan peluang untuk meningkatkan diri mereka masing-masing guna berkembang optimal mencapai semua hal yang dicita-citakan dengan maksimal dan yang diinginkan itu dapat terlaksana.
Ketidakpercayaan masyarakat, tudingan miring dan skeptis tidak dapat ditepis begitu saja, jika sekolah melalui persatuan dan kesatuan warganya dapat menjawab melalui aksi dan hasil, dan tentu saja pertanggungjawaban. Yang mengherankan, di dalam satu sekolah pun, kadang kala ada pemilahan yang tidak formal, yaitu ada sebutan kelas atau kaum RSBI dan kaum reguler
… jangan ada pengotak-kotakan, jangan ada pemilah-milahan semacam ini. Karena kami, sekali pun disebut guru yang mengajar di kelas RSBI, tidak mendapat insentif lebih karena sudah mengajar di kelas tersebut ! Sama saja dengan guru yang mengajar di kelas reguler ! Hal itu membuktikan bahwa antara kelas RSBI dengan kelas reguler tidak ada beda, yang menjadi beda itu JATUN ! Karena seluruh sekolah, baik itu berstandar Nasional atau yang bersebutan RSBI hanya punya satu tujuan :
- Tidak menginginkan siswanya sampai TIDAK LULUS !
- Tidak menginginkan siswanya sampai TIDAK NAIK KELAS!
- Tidak menginginkan para peserta didiknya GAGAL !
terlepas dari berbagai praktik “kucing dalam karung” atau “dagang sapi” … buanglah paradigma pemilahan ini, dan apakah kita terus menjadi orang-orang yang pesimistis, atau terlalu sombongkah kita menjadi orang yang optimistik ?
Toh, itu semua berujung seluruh pertanggungjawaban kita kepada Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Esa, yang memberikan kita kesentosaan, akal budi dan hikmat, kemampuan berpikir dan bertindak, untuk menentukan mana yang buruk, yang baik, hingga yang jahat !




















Selamet sore ak Rudy, bagaimana khabarnya. Blognya sudah dilink ke blog fisika Tienka. Ternyata aku sudah berlangganan mengikuti perkembangan blog Guru Fisika, karena setiap saat beritanya ada di emailku, terimakasih.
RSBI, sebuah nama yang bagus dan mentereng. Jika sekolah sudah menerapkan konsep RSBI, artinya sekolah itu sekolah pilihan, selain sekolah favorit, juga sekolah unggulan, jadi sekolah yang bagus, baik dimata masyarakat maupun di mata dinas pendidikan. OK..!, lanjutkan saja nantinya manjadi SBI, walau sana sini banyak kendala.
Aku belum bisa mengomentari bagaimana RSBI ?, karena sekolahku bukan RSBI, jadi belum pengalaman bagaimana RSBI itu..? masih sekolah biasa reguler. Tapi alhamdullilah kalau perkara hasil unas sih selalu 5 besar kota Surabaya.
Begitulah, kommentku, semoga sekolah anda menjadi sekolah benar2 sekolah bertaraf Internasional.
Terima kasih bu Tien atas komentarnya, saya menulis ini karena desakan teman-teman untuk memberi pandangan mengenai RSBI di kota kami yang kecil mungil ini
…. mengenai UN saya masih belum berani memastikan apakah kami benar-benar berada di atas atau di tengah bahkan di bawah, karena nilainya fluktuatif dibandingkan sekolah se-Kalimantan Tengah …
Terima kasih juga sudah berlangganan blog saya ini
…
semoga Ibu semakin rajin menulis blog dan akhirnya menjadi terkenal